Apa Yang Membuat Konsumen Repeat Order?

Apa Yang Membuat Konsumen Repeat Order?

The Brand Master Class – Apa yang membuat konsumen mau merekomendasikan? Apa yang bikin konsumen repeat order? ‘Pak, bapak tahu informasi Neyma dari mana? Apa yang memutuskan bapak kontrak dengan kami?’ Saya suka bertanya-tanya demikian ke klien. Untuk menggali insight mengetahui apa yang ‘work’ dan yang ‘enggak work’.

✅Ini cerita dari klien

Saya pertama kali lihat Mas Dodi di Instagram. Kemudian saya hubungi staff kantor. Saya udah dapat penawaran dan saya masih timbang-timbang.

Setelah itu saya ikut workshop Sekolah CEO.

Saya kenalan dengan seseorang. Anggap saja Anton namanya.
Saya ngomong kalau habis dari workshop ini mau ke Semarang, mau ke kantor Neyma.

Anton ngomong, ‘Neyma hasil berkualitas, layananannya profesional, bagus tuh!’

Ternyata Anton adalah salah satu klien Neyma dari Bandung, yang udah repeat order ke Neyma.

Setelah itu saya mantap dan yakin untuk memilih Neyma. Sampai kantor Neyma, lebih kuat lagi keyakinan saya. Ketemu teamnya Neyma aja udah keren diskusinya.

Apa lagi kalau ketemu langsung dengan Mas Dodi. Langsung saya tanda tangan MoU.

——

✅ Apa pelajarannya ?

1️⃣ Klien melakukan Repeat Order dan mau memberikan rekomendasi pasti karena kepuasan.

Angka repeat order di Neyma mencapai 30%.
(Bu Ira Rahmawati Madjid, masih memegang rekornya 7x repeat order)

Angka klien yang datang karena rekomendasi mencapai 60%.

Calon klien lebih percaya kepada klien yang sudah merasakan pengalaman di Neyma.

Toh di tempat saya ga ada program ‘client get client’

Ada ga klien yang kecewa?
Ada 6 orang.
Kapan-kapan aja cerita ini.

2️⃣ Execelent Operation membuat klien puas. Ketepatan waktu, tepat solusi, layanan yang berkualitas.

Bagian nomor 2 ini, alhamdulillah 2 tahun terakhir Neyma dibantu oleh coach Armala dan tim Sekolah Manajer – Human Plus Institute.

Gimana bikin tepat waktu.
Gimana bikin step by step pekerjaan, gimana monitoringnya, gimana evalutionnya.

Kalau anda punya masalah dengan operation, kapasitas produksi kurang, dan yang sejenis. Ikut aja Workshop Business Fundamental Skill dari Coach Armala.

WAJIB…!!!!

Operation Bring Back Customers. Saya dengan senang hati membagikan pengalaman saya dalam membenahi operation Neyma dengan teman-teman.

3️⃣ Jangan mudah berjanji dengan calon konsumen.

Emang dengan janji lebih mudah berjualan.
Kayak pas Pilpres.. ehh

Saat berjanji, Anda harus memenuhinya.

Prinsip saya under promise over deliver.
Kurangi janji, berikan lebih dari yang dijanjikan.

Itu…!!!

Semoga bermanfaat!

Udah Ikut Pelbagai Workshop, Kok Belum Scale Up Juga?

Udah Ikut Pelbagai Workshop, Kok Belum Scale Up Juga?

The Brand Master Class – Ketika ditanya oleh klien, ‘Mas Dodi nih jago brand, bikin bisnis proses mapping kayak gitu juga bisa, emang udah dari awal bisa atau gimana cara belajarnya?’

‘Maksudnya dari awal bisa? lahir bayi tahu-tahu udah bisa bisa multi ilmu gitu?’

‘Bukan gitu… gimana sih cara belajarnya…’

Intinya gini, saya ambil dari kutipan sahabat saya, ABi Darwis Darmadji Harsono

TIDAK ADA PERTUMBUHAN DI ZONA NYAMAN
dan
TIDAK ADA KENYAMANAN DI ZONA PERTUMBUHAN.

Berhenti dulu bacanya.
Baca kalimat di atas 10x.

Bilangin… jangan terusin dulu.
Baca 10X dulu.

Udah? Mudeng?

Tahun 2017 akhir, saya ikut Business Accelartion Camp dengan pak Budi Isman. 5 Hari di Bogor.
Outputnya bikin Startegic Plan.

Saya mau omset XXXX Milyar.
Salah satu challange dari beliau, gimana cara kamu PRODUKSI.

Coba hitung…
Satu kontrak rata-rata di 2016 & 2017 piro?

Terus kalau kamu mau target omsetnya SEGITU MILYAR.

Coba dibagi…

Duuaaaaarrrrr….
Sekian RATUS KONTRAK..

Kapasitas PRODUKSIMU piye?

Lah tho…

Asal nentuin Target OMSET, ga dihitung KEMAMPUAN / KAPASITAS PRODUKSI.
Modyar…

MUMET…!!!!
Camp berakhir.

Beberapa pekan kemudian, saya mentoring langsung dengan Pak Budi Satria Isman
Awal tahun 2018.

“Pak, alternatif saya untuk mencapai omset SEGITU MILIYAR,
kalo lewat Neyma, susah pak..saya bikin brand baru aja pak,
untuk kelas dibawahnya NEYMA, agar target SEGITU MILIYAR tercapai…”

Jawaban pak Budi, bikin saya tertusuk dalam…

“You punya PROBLEM, target 2018 yang kemungkinan besar ga tercapai. You anggap SOLUSInya adalah bikin bisnis baru. You kira bikin BISNIS BARU ga nambah PROBLEM BARU?”

“Ehmmm….. iya sih pak…”

“Nah…jangan MENYELESAIKAN MASALAH, dengan MEMBUAT MASALAH BARU….”

Dalem banget kata-kata itu…
Saya inget
Saya catat pake SPIDOL BESAR, warna merah, dilingkari.
Kasih tanda pentung…

“Terus apa SOLUSImu…” tanya pak Budi.

“Hanya satu cara pak… Besarin kapasitas…”

Kesimpulan, tahun 2018.
Strategic Plan saya yang diturunkan menjadi Tactical Plan.
80% isinya meningkatkan KAPABILITAS & KAPASITAS.

Ditambah lagi pas ikutan GLC, coach Imam Elfahmi mengatakan

“Kapasitas bisnismu akan bertumbuh sebesar leadershipmu….” dengan gaya khasnya nendang meja.

Jleeeebb…
Kayaknya aku tahu masalahku…

(Biasanya masalah bisnis, bukan bisnisnya bermasalah, tetapi ownernya yang bermasalah…masalah kesehatan mentalnya… ikutan Grounded Business Coaching, belajar tentang 9 Business Owner Mentality, ilmu yang bikin otak kontraksi…)

Dalam hati…
Saya tahu harus kemana mencari SUPER HERO,
Untuk meningkatkan KAPABILITAS & KAPASITAS Produksi.

Sekolah Manajer – Human Plus Institute

Di tahun 2018, saya memiliki kesadaran PENUH.
Tahun 2018, omset saya akan menurun.
Karena FOKUS saya adalah tentang meningkatkan kapasitas & kapabilitas.

Yang di tahun 2017,
Molor, lama, ga tepat waktu.
Dan seabrek-abrek lainnya.

Mulailah saya belajar Business Process Mapping.
Bingung.
Mencoba untuk memahami.

Bayangin aja waktu pertama kali belajar Mobil.
Ya bingung.
Ya takut.
Ya deg-degan.

Tetapi saya harus belajar.
Kalau ga ada ilmu ini.
KAPASITAS MENTOK segini-gini aja.

MArketing udah biar jalan seadanya dulu.

Saya punya prinsip.
Saya besarin EMBERNYA (kapasitasnya)
Allah yang tuang AIRNYA.

Biarin saya setahun ini (2018) SABAR dan FOKUS di belajar Business Process Mapping.

Buka Modul.
Konsultasi dengan Bu Nia (tim Coach Armala)
Konsultasi langsung dengan Pak Armala

‘Kenapa saya sudah ikut workshopnya kok hasilnya beda dengan mas Dodi ya…’

‘Lha kamu praktek ga? Prakteknya konsisten ga? Udah nemu kesulitan dalam prakteknya? abis ketemu kesulitannya, lanjut terus apa berhenti praktek?’

‘Iya… belum konsisten.. hehehe’

Makanya saya bisa cerita tentang bisnis proses, tentang Management Control System, karena saya praktekkan apa yang ada workshop.
Saya hanya menceritakan APA YANG SUDAH SAYA LAKUKAN.

Dan alhamdulillah…
Setelah di 2019, atas izin Allah,
Neyma dari pendapatan meningkat
Dari sisi proses (operation) lebih efisien.

Minim tekanan,
Yang bikin AE nya sulit cari jodoh.
Karena diburu-buru deadline.

Minim tekanan,
Yang bikin designernya ga bisa shalat malam.
Karena malamnya untuk design terus..
(Kan tahajud, harus bobo dulu.)

Operation yang ada di Neyma,
Dengan metodologi yang terstruktur dan sistematis

Sekaligus menjadi Barrier to Entry kompetitor masuk.

Karena ntar kompetitor lain,
Akan melalui fase KETETERAN PRODUKSI juga.

Alhamdulillah Neyma sudah melewatinya.

2018 pakai gigi 1
2019 udah masuk gigi 2
2020 in shaa Allah masuk gigi 4
2021 in shaa Allah masuk gigi 5.

——
Kesimpulannya…

1| Saat ikut Workshop, terlebih materi yang baru untuk teman-teman. Langsung PRAKTEK. Ilmu-ilmu baru akan hadir saat praktek.

2| KESABARAN adalah hal FUNDAMENTAL, dalam mengembangkan bisnis, di level apapun. Baik masih UKM mikro, kecil dan menengah.

3| TIDAK ADA PERTUMBUHAN DI ZONA NYAMAN dan TIDAK ADA KENYAMANAN DI ZONA PERTUMBUHAN.

Sepakat?

Apa Itu Apple Syndrome?

Apa Itu Apple Syndrome?

The Brand Master Class – Apa sih Apple syndrome? Ini berdasarkan pengalaman pribadi. Gini, pernah kan ikut workshop? Kemudian sang pembicara menceritakan indahnya perusahaan Apple.

Banyak yang antri.
Walapun harga selangit.
Loyalitas tinggi.
Profit tinggi.

Mulailah sang peserta tersepona.
Mabuk kepayang dibuatnya.

Mulai pembicara menceritakan langkah-langkah mencapai seperti Apple.

Bangun cerita.
Barang dijual mahal.
Bisa menjadi prestisius.

Peserta makin tersepona
Dan tergila gila.
Bersemangat.

Seakan semuanya mudah.
Seakan semua masalah bisnis selesai dengan satu workshop ini.

Hayo…
Siapa yang ngerasa gini.

Pas habis workshop
Pulang ke kantornya masing-masing
Berusaha mengeksekusi sesuai langkah-langkah sang pembicara.

Pas mau eksekusi,
Tagihan datang… bingung cari dananya.
tim ada yang menjengkelkan… beresin tim lebih dulu.
Produk dikomplain… benerin urusan produksi.
Harga ditawar habis-habisan… bingung ngejawabnya.

Dan ratusan masalah lainnya,

Akhirnya kisah indah Apple terlupakan.
Peserta workshop kembali ke rutinitas masing-masing.

Asli…
Ini pengalaman saya pribadi.

Saya juga pembicara di workshop.
Dan saya juga pernah melakukan hal yang sama.

Hahaha…

Akhirnya saya mikir.
Ga boleh kayak gini nih.

Peserta ga tahu apa yang harus dilakukan.

Saya melakukan evaluasi.
Akhirnya muncullah sebuah kesimpulan.

Yang harus diceritakan adalah sewaktu Apple masih kecil, masih UKM, apa yang dilakukan sehingga menyebabkan sebesar seperti sekarang.

Kalau menceritakan apa yang dilakukan saat sudah besar.

Duuuh… peserta UKM, bingung menghubungkannya, apa yang harus kulakukan setelah ini.

Brand gede
Saat bikin ‘statement tertentu’ posisi awareness sudah meluas.
Budget untuk komunikasinya juga amit-amit.

Lah UKM?
Awareness aja belum meluas.
Trust masih naik turun.
Budget serba terbatas.

Makanya The Brand Master Class, memiliki konsep harus terstruktur, sistematis dan holistik.
Dan executable (langsung bisa dieksekusi).

Karena trauma diri sendiri.

Siapa yang punya pengalaman yang sama?
Share dong pengalamannya.

5 Metode Menyusun Anggaran Marketing UKM

5 Metode Menyusun Anggaran Marketing UKM

The Brand Master Class – Sudah nyusun budget promosi belum? Hal ini biasanya dilakukan di akhir tahun. Berapa persen sih yang dialokasikan untuk promosi?

Berikut ini 5 metode menyusun anggaran marketing yang UKM banget.

1| Presentase OMSET.

Paling banyak dipakai oleh banyak perusahaan.

Misalnya anda menetapkan anggaran marketing 10% dari omset.
Kalau punya omset 1 Triliyun, berarti anggaran marketingnya 100 M.

Berapa % anggaran idealnya?
Tidak ada angka pastinya tetapi ada caranya untuk mengetahuinya.

2| Metode CONTEK / metode paritas.

Ya contek aja industri / kategori yang sama. Anda bisnis kosmetik, cek aja bisnis kosmetik yang lain punya anggaran promosi berapa %. Di indutsri kosmetik bisa mencapai 40-50% dari omset / revenue.

3| Metode TUJUAN.

Tentukan tujuannya dulu baru susun anggarannya.

“loh bukannya tujuan promosi pasti omset…”

Bener!!! tapi untuk sampe ke OMSET ada perjalanannya…Kalau anda mau traveling dari Semarang ke Jakarta naik mobil. Kota-kota yang terlewati Kendal – Pemalang – Pekalongan – Tegal – Brebes – dll. Kalau membuat promosi tujuannya bisa dipecah-pecah menjadi tujuannya PEKALONGAN atau TEGAL bukan JAKARTAnya.

Kala Brand anda baru lahir.
BIASANYA!!!! membutuhkan biaya promosi lebih besar.

Tujuannya adalah MENCARI PELANGGAN BARU….

4| Sesuai KEMAMPUAN.
Nah ini bisa dipake UKM. Ya bikin anggaran sesuai kemampuan.

5| Tanpa BUDGETING
Nah… ini paling UKM banget…!!!
Tanpa anggaran…kalau pas pengen ngeluarin ya dikeluarin…

Sadar…sadar…sadar… kalau pengen gede bisnisnya, ya mulai dianggarkan.
Kalau tanpa anggaran, enggak bisa diukur.

Segera taubat ya… Kalau teman-teman pakai metode yang mana? Yuk sharing…

Dodi Zulkifli

Name - City
Membeli Product Time